Senin, 25 Mei 2009

Penikahan Adat Jawa

Hmm.... ini dia hari yang ditunggu-tunggu :) Sabtu, 16 Mei 2009 adalah hari bahagia kami berdua. Pernikahan kami telah disahkan secara gereja oleh Rm. Gilbert, CICM di Gereja Santo Thomas Rasul - Bojong Indan dan tercatat secara resmi oleh Pemerintah :)

Rangkaian upacara pernikahan secara keseluruhan berjalan baik dan lancar. Syukur, pada hari itu tidak turun hujan sehingga banyak teman dan kerabat hadir mengikuti upacara pernikahan dan resepsi pernikahan kami.
Yang sangat menarik dari rangkaian resepsi ini adalah upacara adat jawa yang kami selenggarakan. Selain unik dan memiliki tujuan melestarikan budaya jawa leluhur kami, acara ini membuat antusias para tamu untuk mengikuti jalannya upacara tersebut. Upacara adat jawa yang kami selenggarakan dimulai dengan Upacara Panggih yang terdiri dari beberapa bagian, bubakkawah/begalan, dan terakhir adalah Tumplak Punjen yaitu menyebar udhik-udhik (terdiri dari beras kuning, biji-bijian, serta uang logam) sebagai tanda syukur kami atas rejeki yang kami terima.

Mungkin banyak yang belum memahami arti upacara adat jawa ini... sekilas saya tuliskan maksud serta tujuannya. Artikel diambil dari berbagai sumber di Internet.

Upacara Panggih
Pemasangan Kembar Mayang, dalam upacara ini kembar mayang di pasang di samping kanan dan kiri pelaminan. Hiasan yang dibuat dari janur serta beberapa buah-buahan ini bertujuan mengusir roh jahat agar upacara berjalan lancar.
Pembuatan kembar mayang ini dilakukan oleh teman-temanku di Lingkungan Kampung Salo yang tergabung dalam Ikatan Remaja Nirwana (IRENA). Kami sering membuat janur serta kembar mayang bila ada tetangga atau teman yang mengadakan hajatan.

Penyerahan Sanggan
Pengantin wanita keluar menuju ruangan upacara ditemani oleh orang tua serta dua orang wanita kerabatnya. Kemudian orang tua wanita menerima penyerahan pisang sanggan dari pihak pengantin pria yaitu berupa gedang ayu/ suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.





Balangan Suruh/Melempar Daun Sirih

Kami bertemu di tengah-tengah ruangan upacara dengan jarak kurang lebih 3 meter. Masing2 memegang buntelan/gulungan sirih yang telah diikat sebanyak 3 buah. Kami saling melempar ke arah pasangan masing-masing. Tentunya diiringi dengan senyum dan tawa, demikian pula para tamu yang hadir. Maksud dari balangan suruh ini adalah selain mengusir roh jahat, makna dari balangan suruh ini adalah tanda bahwa bersedianya seorang gadis menerima pinangan sang pria. Selain itu arti dari bagian ini adalah cinta dan kesetiaan.

Wiji Dadi
Pengantin pria memecahkan telor ayam dengan telapak kakinya kemudian dibasuh dengan air oleh pengantin wanita, ini menandakan pengantin pria sudah siap menjadi kepala rumah tangga dan pengantin wanita siap pula melayani serta berbakti pada suaminya





Sindur Binayang
Sindur Binayang di dalam ritual khas pernikahan adat Solo ini adalah ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, di belakang penganti ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan sang ibu memberikan dukungan moral.








Timbang/Pangkon
Aku dan suami dipangku oleh Bapakku, kemudian ibuku akan menanyakan kepada bapak, berat yang mana antara aku dan suami. Bapakku akan menjawab sama-sama beratnya. Tentunya pertanyaan tersebut menggunakan bahasa jawa. Arti dari ritual ini adalah bahwa cinta kami sama-sama kuat, dan cinta orang tua pun sama besarnya antara anak dan menantu.




Tanem
Pada ritual ini bapak pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pelaminan sebagai tanda merestui pernikahan mereka dan memberikan berkat









Kacar-Kucur/Tampa Kaya
Pengantin pria akan menuangkan/mengucurkan hasil kerjanya dalam simbol berupa kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga dan uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Pengantin perempuan menerima hadiah ini dengan dibungkus kain putih yang ada di pangkuannya sebagai simbol istri yang baik dan peduli



Dahar Kembul / Dahar Walimah









Ritual ini adalah dimana kami saling menyuapi nasi satu sama lain yang melambangkan bahwa kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang dan saling menikmati milik mereka bersama. Sebelumnya cuci tangan dulu loh... kemudian ibu Ning (Pemaes) memberikan sebuah piring kepada pengantin perempuan (berisi nasi kuning, telur goreng, kedelai, tempe, abon, dan hati ayam). Pertama-tama, pengantin pria membuat tiga bulatan nasi dengan tangan kanannya dan menyuapkannya ke mulut pengantin perempuan. Setelah itu ganti pengantin perempuan yang menyuapi pengantin pria. Setelah makan, mereka lalu minum teh manis. Beneran loh... waktu itu kita laper banget hehehe... dan kebetulan nasi kuningnya enak..... :)

Rujak Degan
Sebetulnya ritual ini adalah acara pembuka untuk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak. Tetapi karena aku adalah anak perempuan satu-satunya maka ritual ini juga dilakukan. Rujak degan artinya agar dalam pernikahan selalu sehat sejahtera dan diberi keturunan yang sehat dan manis seperti rasa rujak dekan tersebut.







Bubak Kawah
Acara perebutan alat-alat dapur. Tujuannya membuka jalan bagi orang tua yang mantu untuk pertama kalinya (kebetulan aku adalah anak perempuan satu-satunya). Arti dari acara ini adalah agar pernikahan kami sehat dan sejahtera serta merupakan ucapan syukur kami kepada Tuhan agar kami diberikan kekuatan jasmani dan rohani dalam membangun keluarga. Yang bertugas memikul alat-alat ini adalah Kakakku (Koko), dia senang banget diberi tugas ini. Dia masuk ruangan sambil berjoged-joged mengikuti irama Campur Sari dan bersiap2 dikerubuti ibu2 yang akan merebut (mem-begal) alat2 dapur yang dibawanya.... huwwwwa..... segera setelah MC menghitung agar semua bersiap2 merebut.... akhirnya lenyap sudah peralatan dapur yang dibawa kakakku.... Seru juga... dan sangat heboh hehehehe
Tumpak Punjen
Karena aku adalah anak perempuan satu-satunya dan ini merupakan acara mantu yang pertama dan terakhir bagi keluargaku. Maka ada prosesi Tumplak Punjen. Tumplak Punjen ini mengandung arti bahwa kekayaan akan ditumpahkan kepada mantu terakhir. Tetapi lebih dari pada itu makna dari acara ini adalah ucapan syukur dari keluarga kami yang telah diberi rejeki, kesehatan, dan keselamatan oleh Tuhan. Sehingga kamipun harus membagi-bagikan rejeki kepada orang lain pulan. Isi dari Tumpak Punjen ini terdiri dari biji-bijian, beras kuning, dan beberapa uang logam dikemas dalam kantong plastik transparan kemudian dimasukan dalam kantong tile berwarna maroon. Orang tuaku terlebih dahulu memberikan bungkusan tumpak punjen tersebut kepada kami agar kami selalu diberi rejeki. Kemudian kami sekeluarga (orang tua, kakak, dan adik) melemparkan bungkusan tersebut kepada para tamu yang hadir. Acara ini juga sama serunya.... para tamu saling berebut :)
Mertui
Orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin laki-laki di depan ruang resepsi untuk berjalan bersama menuju tempat upacara. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Orangtua pengantin pria duduk di sebelah kiri pasangan pengantin, dan sebaliknya.








Foto Bersama Keluarga Besar
Sesudah acara adat selesai dilanjutkan dengan foto bersama keluarga besar mulai dari saudara kandung kami berdua, kemudian disusul dengan sanak-saudara kami maupun teman-teman kami.









Informasi :

Rias Pengantin oleh Ibu Ning Hidayat

Pelaminan & Tenda oleh Ibu Hendro

Kebaya Pemberkatan oleh Manto

Video & Photography oleh Rudy Bali Photo

Prewedding Photography oleh Fish Photo

Cetak Undangan oleh Gracia Printing

Catring oleh Ibu Hj. Mainem Ismadi

Souvenir - Mangga Dua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Senin, 25 Mei 2009

Penikahan Adat Jawa

Hmm.... ini dia hari yang ditunggu-tunggu :) Sabtu, 16 Mei 2009 adalah hari bahagia kami berdua. Pernikahan kami telah disahkan secara gereja oleh Rm. Gilbert, CICM di Gereja Santo Thomas Rasul - Bojong Indan dan tercatat secara resmi oleh Pemerintah :)

Rangkaian upacara pernikahan secara keseluruhan berjalan baik dan lancar. Syukur, pada hari itu tidak turun hujan sehingga banyak teman dan kerabat hadir mengikuti upacara pernikahan dan resepsi pernikahan kami.
Yang sangat menarik dari rangkaian resepsi ini adalah upacara adat jawa yang kami selenggarakan. Selain unik dan memiliki tujuan melestarikan budaya jawa leluhur kami, acara ini membuat antusias para tamu untuk mengikuti jalannya upacara tersebut. Upacara adat jawa yang kami selenggarakan dimulai dengan Upacara Panggih yang terdiri dari beberapa bagian, bubakkawah/begalan, dan terakhir adalah Tumplak Punjen yaitu menyebar udhik-udhik (terdiri dari beras kuning, biji-bijian, serta uang logam) sebagai tanda syukur kami atas rejeki yang kami terima.

Mungkin banyak yang belum memahami arti upacara adat jawa ini... sekilas saya tuliskan maksud serta tujuannya. Artikel diambil dari berbagai sumber di Internet.

Upacara Panggih
Pemasangan Kembar Mayang, dalam upacara ini kembar mayang di pasang di samping kanan dan kiri pelaminan. Hiasan yang dibuat dari janur serta beberapa buah-buahan ini bertujuan mengusir roh jahat agar upacara berjalan lancar.
Pembuatan kembar mayang ini dilakukan oleh teman-temanku di Lingkungan Kampung Salo yang tergabung dalam Ikatan Remaja Nirwana (IRENA). Kami sering membuat janur serta kembar mayang bila ada tetangga atau teman yang mengadakan hajatan.

Penyerahan Sanggan
Pengantin wanita keluar menuju ruangan upacara ditemani oleh orang tua serta dua orang wanita kerabatnya. Kemudian orang tua wanita menerima penyerahan pisang sanggan dari pihak pengantin pria yaitu berupa gedang ayu/ suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.





Balangan Suruh/Melempar Daun Sirih

Kami bertemu di tengah-tengah ruangan upacara dengan jarak kurang lebih 3 meter. Masing2 memegang buntelan/gulungan sirih yang telah diikat sebanyak 3 buah. Kami saling melempar ke arah pasangan masing-masing. Tentunya diiringi dengan senyum dan tawa, demikian pula para tamu yang hadir. Maksud dari balangan suruh ini adalah selain mengusir roh jahat, makna dari balangan suruh ini adalah tanda bahwa bersedianya seorang gadis menerima pinangan sang pria. Selain itu arti dari bagian ini adalah cinta dan kesetiaan.

Wiji Dadi
Pengantin pria memecahkan telor ayam dengan telapak kakinya kemudian dibasuh dengan air oleh pengantin wanita, ini menandakan pengantin pria sudah siap menjadi kepala rumah tangga dan pengantin wanita siap pula melayani serta berbakti pada suaminya





Sindur Binayang
Sindur Binayang di dalam ritual khas pernikahan adat Solo ini adalah ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, di belakang penganti ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan sang ibu memberikan dukungan moral.








Timbang/Pangkon
Aku dan suami dipangku oleh Bapakku, kemudian ibuku akan menanyakan kepada bapak, berat yang mana antara aku dan suami. Bapakku akan menjawab sama-sama beratnya. Tentunya pertanyaan tersebut menggunakan bahasa jawa. Arti dari ritual ini adalah bahwa cinta kami sama-sama kuat, dan cinta orang tua pun sama besarnya antara anak dan menantu.




Tanem
Pada ritual ini bapak pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pelaminan sebagai tanda merestui pernikahan mereka dan memberikan berkat









Kacar-Kucur/Tampa Kaya
Pengantin pria akan menuangkan/mengucurkan hasil kerjanya dalam simbol berupa kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga dan uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Pengantin perempuan menerima hadiah ini dengan dibungkus kain putih yang ada di pangkuannya sebagai simbol istri yang baik dan peduli



Dahar Kembul / Dahar Walimah









Ritual ini adalah dimana kami saling menyuapi nasi satu sama lain yang melambangkan bahwa kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang dan saling menikmati milik mereka bersama. Sebelumnya cuci tangan dulu loh... kemudian ibu Ning (Pemaes) memberikan sebuah piring kepada pengantin perempuan (berisi nasi kuning, telur goreng, kedelai, tempe, abon, dan hati ayam). Pertama-tama, pengantin pria membuat tiga bulatan nasi dengan tangan kanannya dan menyuapkannya ke mulut pengantin perempuan. Setelah itu ganti pengantin perempuan yang menyuapi pengantin pria. Setelah makan, mereka lalu minum teh manis. Beneran loh... waktu itu kita laper banget hehehe... dan kebetulan nasi kuningnya enak..... :)

Rujak Degan
Sebetulnya ritual ini adalah acara pembuka untuk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak. Tetapi karena aku adalah anak perempuan satu-satunya maka ritual ini juga dilakukan. Rujak degan artinya agar dalam pernikahan selalu sehat sejahtera dan diberi keturunan yang sehat dan manis seperti rasa rujak dekan tersebut.







Bubak Kawah
Acara perebutan alat-alat dapur. Tujuannya membuka jalan bagi orang tua yang mantu untuk pertama kalinya (kebetulan aku adalah anak perempuan satu-satunya). Arti dari acara ini adalah agar pernikahan kami sehat dan sejahtera serta merupakan ucapan syukur kami kepada Tuhan agar kami diberikan kekuatan jasmani dan rohani dalam membangun keluarga. Yang bertugas memikul alat-alat ini adalah Kakakku (Koko), dia senang banget diberi tugas ini. Dia masuk ruangan sambil berjoged-joged mengikuti irama Campur Sari dan bersiap2 dikerubuti ibu2 yang akan merebut (mem-begal) alat2 dapur yang dibawanya.... huwwwwa..... segera setelah MC menghitung agar semua bersiap2 merebut.... akhirnya lenyap sudah peralatan dapur yang dibawa kakakku.... Seru juga... dan sangat heboh hehehehe
Tumpak Punjen
Karena aku adalah anak perempuan satu-satunya dan ini merupakan acara mantu yang pertama dan terakhir bagi keluargaku. Maka ada prosesi Tumplak Punjen. Tumplak Punjen ini mengandung arti bahwa kekayaan akan ditumpahkan kepada mantu terakhir. Tetapi lebih dari pada itu makna dari acara ini adalah ucapan syukur dari keluarga kami yang telah diberi rejeki, kesehatan, dan keselamatan oleh Tuhan. Sehingga kamipun harus membagi-bagikan rejeki kepada orang lain pulan. Isi dari Tumpak Punjen ini terdiri dari biji-bijian, beras kuning, dan beberapa uang logam dikemas dalam kantong plastik transparan kemudian dimasukan dalam kantong tile berwarna maroon. Orang tuaku terlebih dahulu memberikan bungkusan tumpak punjen tersebut kepada kami agar kami selalu diberi rejeki. Kemudian kami sekeluarga (orang tua, kakak, dan adik) melemparkan bungkusan tersebut kepada para tamu yang hadir. Acara ini juga sama serunya.... para tamu saling berebut :)
Mertui
Orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin laki-laki di depan ruang resepsi untuk berjalan bersama menuju tempat upacara. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Orangtua pengantin pria duduk di sebelah kiri pasangan pengantin, dan sebaliknya.








Foto Bersama Keluarga Besar
Sesudah acara adat selesai dilanjutkan dengan foto bersama keluarga besar mulai dari saudara kandung kami berdua, kemudian disusul dengan sanak-saudara kami maupun teman-teman kami.









Informasi :

Rias Pengantin oleh Ibu Ning Hidayat

Pelaminan & Tenda oleh Ibu Hendro

Kebaya Pemberkatan oleh Manto

Video & Photography oleh Rudy Bali Photo

Prewedding Photography oleh Fish Photo

Cetak Undangan oleh Gracia Printing

Catring oleh Ibu Hj. Mainem Ismadi

Souvenir - Mangga Dua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

My Wedding Anniversary

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Breastfeeding

Lilypie Breastfeeding tickers